fajarnews

Pengusaha Genteng Jatiwangi Harus Cari Terobosan Baru

Redaksi : Andriyana | Senin, 11 September 2017 | 01:09 WIB

MUNADI
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyaksikan pembuatan genteng Jatiwangi yang mulai lesu.

Fajarnews.com, MAJALENGKA - Lesunya industri genteng Jatiwangi yang hampir membuat sebagian pengusaha gulung tikar, membuat  Ridwan Kamil selaku bakal calon Gubernur Jawa Barat turun tangan dan meninjau langsung keberadaan industri genteng yang kebanyakan berlokasi di wilayah Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka.

Ridwan Kamil dalam blusukannya mengusulkan kepada para pengusaha dan pengrajin genteng untuk membuat terobosan produk baru yang lebih diminati pasar, seperti terakota. Para pelaku usaha genteng saat ini mengeluhkan turunnya omzet akibat munculnya produk-produk baru yang menggantikan fungsi genteng.

"Kebijakan pemerintah saat ini sudah tidak berpihak lagi kepada pengusaha genteng. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pembangunan pemerintah yang atapnya tidak lagi menggunakan genteng jatiwangi, melainkan menggunakan cor," kata Ajie, pemilik pabrik genteng (jebor) Sinar Jaya di Jatiwangi, Sabtu, (9/9).
   
Menurut dia, pengrajin butuh keberpihakan dari pemerintan. Misalnya, industri properti dapat menggunakan genteng, bukan skandal, dicor, atau asbes. Keterpurukan industri genteng saat ini juga dipengaruhi oleh suplai and demand yang tidak seimbang.

"Demand turun hingga 80%. Padahal jebor terus memproduksi genteng, sehingga   stock kita numpuk," ujarnya.

Hal yang sama di uitarakan Ila, seorang pelaku usaha genteng lainnya, Ila menambahkan, dengan kondisi seperti ini sebenarnya para pelaku usaha genteng maunya tutup.

Bahan baku yang terus naik harganya, sulitnya mencari pengrajin, dan kurangnya keberpihakan dari pemerintah menjadi alasan mereka ingin menutup usahanya.

"Jebor saat ini tinggal mempertahankan pabrik warisan dari orang tua dan  buruh pabrik. Satu jebor menghidupi 40 sampai 50 pengrajin". Ujarnya.  

Menurut Ila,  saat ini pabrik genteng di Jatiwangi tersisa 150 jebor. Padahal pada tahun 1992, jumlah pabrik genteng mencapai 630 jebor. Akibat pasar yang lesu, sebagian besar dari mereka akhirnya gulung tikar.

"Industri genteng menghadapi  pesaing seperti genteng spandex (genteng berbahan metal). Ditambah industri garment dari Korea yang tumbuh di Majalengka mengambil para pekerja perempuan di pabrik genteng. Posisi mereka di ngeret (motong) dan neundeun (nyimpeun)," kata Ila.    

Menanggapi hal itu, Emil sapaan akrab Ridwan Kamil menyatakan,  pelaku industri harus melakukan inovasi baru, misalnya dengan memproduksi terakota seperti di Bali.

"Bahan dasar yang dipakai sama, yakni tanah liat, tapi terakota bisa meningkatkan nilai tambah karena bisa dipakai untuk menghias dinding atau lantai," kata Emil.   

Menurut Emil, jika pelaku usaha genteng mau berinovasi memproduksi terakota, maka dia dengan senang hati akan membantu mengirimkan tim untuk merebut kembali masa kejayaan genteng Jatiwangi.

Industri kejayaan genteng Jatiwangi terjadi pada era 90-an hingga tahun 2000. Namun menyusut, dengan tumbuhnya produk lain untuk atap,  seperti genteng spandex, asbes, dan cor-coran.   

Industri genteng di Jatiwangi, pertama kali dipelopori oleh H. Umar Bin Ma'ruf untuk atap   masjid di Dusun Cikarokrok, Majalengka pada 1905.

"Saya akan bawa tim untuk mengajari para pengrajin genteng untuk memproduksi terakota ke sini. Ide, gagasan yang inovatif diharapkan dapat membawa kesejahteraan bagi para pengrajin," kata Emil.

MUNADI

Loading Komentar....