fajarnews

Penjualan Santan Kelapa Cair Melonjak

Redaksi : Andriyana | Selasa, 30 Mei 2017 | 00:00 WIB

IBNU
Uni Nur, penjual Santan Murni siap pakai saat melayani pembelinya, Senin (29/5)

Fajarnews.com, CIREBON - Pada saat bulan Ramadhan, pedagang kolak menjamur yang menjajakan dagangannya di bahu jalan. Hal itu menjadi berkah tersendiri bagi para penjual santan, karena santan kelapa sangat dibutuhkan untuk masakan kolak.

Kolak merupakan nama makanan berkuah yang memiliki rasa manis yang segar. Saat Ramadhan, kolak biasanya dijadikan sebagai makanan penutup atau dapat juga disajikan sebagai tajil saat berbuka puasa.

Selain untuk kolak, santan kelapa juga menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk membuat masakan khas yang berkuah santan. Pada momen seperti bulan puasa atau hari-hari besar, kebutuhan akan santan begitu meningkat.

Uni Nur, salahsatu pedagang santan murni, mengatakan, kebutuhan santan pada saat bulan puasa ini cenderung mengalami peningkatan. Berbeda dengan hari-hari biasa.

“Bulan puasa kan banyak yang jualan kolak, jadi untuk penjualan santan juga alhamdulillah ada peningkatan. Cukup menambah pemasukan yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Uni Nur di Pasar Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk,  Kota Cirebon, Senin (29/5).

Uni Nur menambahkan, peningkatan di awal Ramadhan tahun ini cukup signifikan, naik dibandingkan dengan tahun lalu. “Seingat Uni, kenaikan sebesar 10 persen di awal Ramadhan pada tahun lalu. Berbeda awal Ramadhan sekarang yang meningkat sebesar 15 %,” beber Uni.

Bagi sebagian warga yang tinggal di perkotaan yang serba instan dan cepat tentu saja membeli santan kelapa dalam bentuk bubuk ataupun cair. Hal itu untuk digunakan dalam masakan yang merupakan pilihan tepat daripada harus membuat sendiri santan kelapa yang dibutuhkan untuk setiap masakan yang disajikan.

Kios yang berada di Blok D, Pasar Kanoman yang memiliki ukuran 3 x 2. Setiap hari kiosnya dipenuhi dengan kelapa yang siap untuk dijadikan santan cair. Dengan dikerjakan seorang diri, Uni menikmati pekerjaannya.

“Kalau buka itu dari jam 2 pagi (dini hari) sampai sehabisnya atau sekitar jam 10 sampai 11 pagi. Sehari ada sekitar 100 kelapa lebih yang masuk ke dalam mesin peras santan,” kata Uni sambil menunjukkan mesin yang dibelinya di Malaysia.

Dengan semangat yang masih tersisa dan tanpa terlihat kelelahan, Uni tetap melayani konsumen yang membeli santan asli dari Mutiara Santan. Mutiara Santan adalah nama kios dari Uni Nur.

Dengan modal kelapa yang dibeli di agen salah satu pasar tradisional di Kota Cirebon. Uni menunjukkan cara pengolahan kelapa kepada Fajarnews.com.

“Empat butir kelapa itu untuk satu kilo santan yang dibelah menjadi 2 terlebih dahulu. Kelapa yang telah dibelah tadi lalu diparut. Setelah itu, masukan hasil parutannya ke dalam mesin untuk peras santan ini. Nah untuk ampasnya masuk ke sebelah sini,” ujarnya sambil memegang tempat ampas dari mesin itu.

Mutiara Santan menerima pesanan untuk semua masakan yang membutuhkan santan.

“Langganan Uni itu rumah makan padang, restauran, atau ibu-ibu rumahan juga banyak. Santanya tidak peras-peras lagi. Untuk masakan apa aja bisa, praktis, bermutu, halal bikin lezat dan gurih makanan, dan yang terpenting tanpa pengawat, karena awetnya cuman dua jam,” jelasnya dengan logat Minang.

IBNU

Loading Komentar....