fajarnews

Jadi Desa Wisata, Perajin Gerabah Sitiwinangun Meningkat

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 10 Mei 2017 | 13:45 WIB

Andriyana
Salah seorang perajin gerabah Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang tengah menyelesaikan salah satu karyanya.*

Fajarnews.com, CIREBON- Sejak dicanangkan menjadi Desa Wisata Berbasis Kerajinan Gerabah, usaha kerajinan gerabah di Desa Sitiwinangun mulai menggeliat.

Jumlah perajin pun bertambah seiring mulai ramainya orang-orang yang datang dari berbagai daerah untuk berwisata gerabah di desa yang terletak di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon ini.

Kuwu Desa Sitiwinangun, Ratija mengatakan, sebelum dicanangkan menjadi Desa Wisata, jumlah perajin gerabah di desa ini ada 35 orang.

Kini jumlahnya meningkat cukup signifikan menjadi sekitar 60 perajin. Bahkan, generasi muda di desa itu mulai tertarik menggeluti usaha kerajinan gerabah.

“Alhamdulillah memang ada perkembangan yang cukup signifikan dari jumlah perajin, terutama yang menggembirakan sudah mulai banyak generasi muda yang tertarik kembali untuk membuat gerabah. Kalau bicara pelestarian ya kita bicara kaderisasi, sampai sejauh mana generasi mudanya tertarik pada kegiatan gerabah,” ujarnya, Senin (8/5).

Kuwu Ratija menambahkan, jumlah perajin terus mengalami penurunan sejak tahun 1970 an. Dari sekitar 1000 perajin hingga memasuki tahun 2000 an jumlahnya hanya tersisa 35 perajin.

“Setelah tahun 1970 an kita mengalami penurunan perajin yang cukup drastis. Ini dikarenakan banyak faktor, salah satunya dari banyak pesaing bahan alternatif selain gerabah, terutama untuk perabot rumah tangga seperti ada panci, ember plastik dan lain sebagainya,” tukasnya.

Pencanangan desa wisata ini, kata dia, sebagai salahsatu upaya melestarikan dan membangkitkan eksistensi kerajinan gerabah Sitiwinangun yang sudah dikenal sejak dulu. Gerabah Sitiwinangun bukan semata-mata untuk penghidupan ekonomi warga, melainkan punya nilai sejarah dan budaya tersendiri.

“Nama Sitiwinangun itu identik dengan gerabah. Siti itu artinya tanah, winangun itu artinya yang dibangun. Jadi Sitiwinangun adalah tanah yang dibangun. Karena itu akan hilang nilai Sitiwinangunnya kalau kerajinan gerabah ini punah,” paparnya.

Upaya melestarikan kerajinan gerabah ini, tambahnya, harus simultan dengan menjadikan gerabah sebagai salahsatu sumber penghidupan ekonomi warga.

“Jadi desa wisata ini seperti lokomotifnya. Nanti gerbong-gerbongnya ini adalah kegiatan produksi gerabah di tiap-tiap rumahnya ini bangkit kembali setelah banyak pengunjung,” pungkas Kuwu Ratija. (Andriyana)

 

 

 

Loading Komentar....