fajarnews

Karangbawang Pertahankan Setra Produksi Ikan Asap

Redaksi : Andriyana | Kamis, 20 April 2017 | 23:54 WIB

IRGUN
Seorang pelaku usaha ikan asap sedang merapikan hasil produksinya. Dalam sehari warga Blok Karangbawang, mampu memproduksi 1,5 ton ikan asap atau ikan cucut

Fajarnews.com, CIREBON - Blok Karangbawang, Desa Kemantren, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon sampai saat ini masih mempertahankan daerahnya sebagai sentra produksi ikan asap. Menurut, pelaku usaha ikan asap, Sarja, ikan asap atau di pasaran lebih dikenal ikan cucut berbahan ikan pari.

“Ikan pari tersebut kita beli dari Tegal, Pasar Kluwut dan Kejawanan. Dalam sehari minimal kami membeli minimal 2,5 ton ikan pari yang dibagikan kepada 26 anggota kelompok ikan asap,” kata Sarja kepada fajarnews.com, Kamis (20/4).

Ia menjelaskan, di Blok Karangbawang ini para pelaku usaha ikan asap membentuk kelompok pengolah ikan asap Bumi Tepi Jaya yang total anggotanya saat ini amencapai 26 anggota. “Anggota ini terus meningkat. Dahulu jumlah anggota kelompok hanya 16 orang,” ujar pria yang telah belasan tahun mengerjakan usaha ikan asap.

Usaha ini, kata Sarja, merupakan usaha turun temurun bagi warga Blok Karangbawang mengerjakan usaha ikan asap. Dalam sehari total produksi ikan asap mencapai 1,5 ton ikan asap.

“Dari hasil produksi itu ada yang didagangkan langsung di pasar atau dikirim ke para pelanggannya di sejumlah pasar di Kuningan, Cirebon, Indramayu hingga keluar wilayah III Cirebon,” ujar Sarja.

Harga yang ditawarkan, katanya, antara Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu/kg. Sedangkan pembelian ikan pari dari nelayan Rp 14 ribu/kg. “Jangan dilihat untungnya lebih 50 persen karena ikan pari yang diolah jadi ikan cucut limbahnya juga mencapai 50 persen lebih,” jelas dia.

Kata Sarja, ikan cucut hingga saat ini masih banyak peminat. “Saya saja dalam sehari berdagang ikan cucut di Pasar Sumber dalam sehari 60 kg dan selalu habis, bahkan banyak pelanggan tidak kebagian,” ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, jualan ikan cucut sebanyak itu bisa dikatakan pedagang menengah. “Yang paling besar yang memproduksi ikan cucut di Blok Karangbawang adalah Pak Kurnadi. Dalam sehari beliau mampu memproduksi diatas 100 kg,” katanya.

Dalam proses produksinya, sebagian besar pelaku usaha ikan asap menggunakan rumah sebagai tempat produksi. Tempat pengasapan bisa dibuat dari batu bata berukuran tinggi 2 m, lebar 1,5 m, panjang 1 m.

“Tempat pengasapan ini harus dilengkapi dengan cerobong  asap agar memudahkan asap keluar. Disamping itu diperlukan juga rak bambu yang nantinya akan dipakai sebagai tempat meletakkan ikan,” jelas Sarja.

Ditambahkannya, rak bambu ini disusun bertingkat dengan jarak antara masing masing rak adalah 20 cm dan jarak rak bambu terbawah dengan sumber api berjarak sekitar  90 cm. “Jarak antara ikan dengan api jangan terlalu dekat sebab bisa menyebabkan ikan menjadi gosong,” ucap dia.

Bahan bakar yang digunakan, kata Sarja, berupa batok kelapa karena tingkat panas lebih bangus dibanding  bambu atau kayu.
Ditanya soal kendala, Sarja menjawab, kendala yang sering diributkan antar kampung sebelah yang memproduksi ikan asap adalah limbahnya. Limbah ikan yang bau mengalir di kali sehingga menimbulkan bau tak sedap.

“Kendala inilah yang harus segera diatasi, sebab sering terjadi komplain dari tetangga sebelah. Saya berharap Pemda Cirebon dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan bersama-sama mencari solusi terbaik untuk mengatasi kendala ini,” pungkasnya.

IRWAN GUNAWAN

Loading Komentar....