fajarnews

Harga Emping Mentah di Tingkat Produsen Alami Lonjakan

Redaksi : Andriyana | Jumat, 17 Juni 2016 | 22:40 WIB

IGUN
Seorang pengrajin di Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon menunjukan produksi hasil olehan tangkil menjadi emping mentah siap jual.

Fajarnews.com, CIREBON- Menjelang pertengahan bulan Ramadhan, harga emping di tingkat produsen melonjak. Lonjakan harga ini hampir merata di beberapa pengrajin di sentra produksi emping Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jumat (17/6).

Khanafi, seorang pengrajin emping di Desa Tuk mengungkapkan, lonjakan harga emping mulai terjadi saat menjelang bulan ramadhan. Lonjakan kenaikan harga emping, katanya, dipengaruhi harga bahan baku tangkil yang didatangkan dari Banten dan Jawa.

“Saat menjelang bulan Ramadhan saja harga bahan baku tangkil sudah naik di kisaran Rp8 ribu/kg. Memasuki bulan Ramadhan naik lagi menjadi Rp16 ribu/kg. Nah, pertengahan bulan Ramadhan sekarang ini, harga tangkil sudah masuk di angka Rp21,5 ribu/kg untuk tangkil asal Banten dan Rp20 ribu/kg untuk tangkil asal Jawa,” ujar Khanafi.

Ia menambahkan, jika harga tangkil Rp8 ribu setelah diolah dan diproduksi menjadi emping harga jual emping Rp30 ribu/kg, sedangkan saat harga tangkil Rp16 ribu harga jual emping mencapai Rp45 ribu/kg.

“Sekarang kalau harga tangkil Rp21,5 ribu/kg maka harga emping mentah kami jual dikisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu/kg,” kata Khanafi.

Khanafi menyebutkan, kenaikan harga bahan baku tangkil tersebut karena permintaan banyak sedangkan tangkil yang dikirim sedikit. “Kadang kalau barang datang, kami rebutan untuk mendapatkan bahan baku tangkil,” ungkapnya.

Menurutnya, rata-rata pengrajin emping mentah di sentra produksi Desa Tuk di kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu/kg. “Mendekati hari lebaran harga tersebut kemungkinan akan terus naik karena kiriman tangkil akan berkurang,” ucap Khanafi.

IGUN
-

Di tempat berbeda, seorang pengrajin emping tangkil, Santi mengatakan hal yang sama. Menurutnya, harga emping mentah memasuki pertengahan bulan Ramadhan menunjukan kenaikan karena bahan baku tangkil mulai berkurang.

Santi mengatakan, bahan baku tangkil banyak didapat dari supplier tangkil dari Serang, Propinsi Banten. “Harganya lagi mahal per kilo mencapai Rp21,5 ribu,” kata pemilik kios Santi Jaya ini. Setelah diproduksi menjadi emping mentah dijual dengan harga antara Rp60 ribu hingga Rp65 ribu/kg.

Menurutnya, sebagian besar pengrajin emping di Desa Tuk merupakan usaha turun temurun sejak puluhan tahun lalu. Di Desa Tuk sedikitnya ada 40 pengrajin emping yang tersebar di berbagai sudut kampung.

Aroma khas emping terasa ketika memasuki jalanan. Jejeran emping yang sedang dijemur di bawah terik matahari, menjadi pemandangan yang biasa bagi masyarakat di sana.

Dari tangan terampil para pengrajin itu, puluh ton emping berpindah tempat ke kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Santi misalnya, dalam keadaan sepi mampu memproduksi hingga 500 kg emping sebagian besar telah diolah menjadi emping goreng berbagai rasa.

“Dalam kondisi puncak terutama menjelang Lebaran,  produksi kami bisa mencapai 2 ton,” ungkapnya.

Untuk menghasilkan produksi itu, ia mempekerjakan 15 karyawan mulai dari proses awal hingga packing. Produk emping yang dihasilkan ada dua rasa yakni rasa asin dan pedas.

Emping tangkil produksinya dikirim ke empat kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keempat kota itu adalah Surabaya, Semarang, Solo dan Jogjakarta.

Pengrajin lainnya, kata Santi, bisa menjual produksinya ke berbagai kota di Jawa Barat, Jakarta hingga Sumatera. “Mereka sudah mempunyai langganan setia. Jadi tidak rebutan langganan,” katanya. (IGUN)

Loading Komentar....