fajarnews

Dampak Rupiah Melemah, Pengusaha Tempe Merugi

Redaksi : Andriyana | Kamis, 27 Agustus 2015 | 21:48 WIB

WIL
-

Fajarnews.com, CIREBON- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika, berdampak kerugian pada pengusaha tempe di Kota Cirebon. Para pelaku usaha industri rumahan gelisah dengan terus turunnya nilai tukar rupiah  dari hari kehari. Meski demikian membuat, mereka tetap bartahan dan tidak berniat menurunkan atau mengurangi jumlah produksi. Walhasil, omzet yang didapat turun drastis.

Seperti dialami, pengusaha tempe di Drajat Kelurahan Drajat Kecamatan Kesambi, Sutrisno mengaku dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah dari hari ke hari membuat harga kacang kedelai semakin naik. Dia menjelaskan, kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tempe itu menggunakan jenis kedelai impor. Sehingga harga kedelai yang semula per kuintal hanya Rp680 ribu, sekarang ini naik menjadi Rp73 ribu.

“Karena kebetulan menggunakan kedelai impor itu, tentu dampak dari dollar naik harganya semakin tinggi, kalau pakai kedelai lokal hasilnya kurang bagus, makanya omzet per hari pun jadi turun drastis,” ujar Sutrisno saat dikunjungi fajarnews.com di rumahnya, Kamis (27/8).

Kondisi yang dialami Trisno, dia memilih untuk tidak menaikkan harga produksi atau sampai mengurangi komposisi kedelai. Namun demikian, keuntungan per hari yang biasa meraup keuntungan sebesar Rp200 ribu per hari, saat ini turun omzet 50 persen menjadi Rp100 ribu saja.

Keuntungan per hari itu, kata Trisno, terbilang masih kotor. Karena belum dihitung untuk biaya produksi dan distribusi serta menggaji seorang karyawannnya. Menurutnya memilih tidak mengurangi bentuk dan jumlah komposisi tempe, karena ingin mempertahankan kualitas serta menjamin kepada pelanggannya untuk tidak beralih kepada produsen tempe lain.

“Sehari seratus ribu, itu belum dihitung untuk biaya membeli plastik, bensin buat ke pasar, dan membeli kayu bakar. Tapi nggak, mudah-mudahan rupiah bisa kembali menguat dan kedelai bisa murah lagi,” tuturnya.

Setiap harinya, Trisno terpaksa menghabiskan kedelai satu kuintal untuk diproduksi. Sementara kebutuhan membeli kedelai membutuhkan modal sekitar Rp500 ribu lebih untuk membeli 7 kuintal dalam satu minggu. Sementara harga satu lajur tempe berukuran 2,5 meter hanya dihargai Rp35 ribu.

“Keadaan ini masih tertolong, karena biasanya saya juga menjual tempe langsung ke pasar yang sudah dipotong-potong, harganya Rp4 ribu, pengennya sih pemerintah bisa menekan harga kedelai agar bisa murah. Kalau terus-terusan sperti ini, saya juga nggak tahu mas,” keluhnya. (WIL)

Loading Komentar....